Herbal Hepatitis

Bahan-bahan : Androgarphis sp, Rhizoma curcuma sp, Phylanthus herba dan herba lain hingga 100%.

Aturan minum: 3×3-5 kapsul/ hari.

Perhatian:
Produk ini dipasarkan secara terbatas untuk kalangan sendiri karena sedang dalam proses pengurusan ijin edar Balai POM Jakarta.
Meskipun demikian produk ini aman dikonsumsi karena sudah mendapat ijin resmi dari Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah dengan nomor : 503/4291/2 tanggal 30 Juni 2009.

Deskripsi :

Anda sering mengalami sindroma flu (seperti sedang mengalami flu)? Mual, kehilangan nafsu makan, pembengkakan di rongga perut bagian kanan atas, atau sering nyeri otot dan persendian? Hati-hati, karena boleh jadi hal tersebut mengindikasikan Anda terjangkit penyakit hepatitis.

Penelitian menunjukkan bahwa hampir hampir 20-an juta penduduk Indonesia mengalami penyakit hepatitisdengan berbagai jenisnya.

Penyakit hepatitis adalah peradangan hati, berikut kerusakan atau kematian sel-sel karena infeksi virus, mengkosumsi obat-obatan kimia, atau bahan-bahan beracun. Bisa juga penyakit ini disebabkan karena bakteri dan gizi buruk.

Harus menyerah?

Tak perlu putus asa. Setiap penyakit ada obatnya. Cegah dan obatilah penyakit hepatitis menggunakan kapsul hepatitis yang diracik dari tanaman yang berkhasiat obat.

Kegunaan kapsul ini adalah memperbaiki organ hati sehingga berfungsi normal, mengobati peradangan hati, membersihkan racun, menghambat pertumbuhan virus, mengurangi rasa sakit (analgesik)  yang berhubungan dengan penyakit hepatitis

Sambiloto

(Andrographis paniculata Ness.)

Sinonim :
= Andrographis paniculata, Ness. = Justicia stricta, Lamk. = J.paniculata, Burm. = J.latebrosa, Russ.

Familia :
Acanthaceae

Uraian :
I. Uraian Tumbuhan. Sambiloto tumbuh liar di tempat terbuka, seperti di kebun, tepi sungai, tanah kosong yang agak lernbap, atau di pekarangan. Tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 700 m dpl. Terna semusim, tinggi 50 – 90 cm, batang disertai banyak cabang berbentuk segi empat (kwadrangularis) dengan nodus yang membesar. Daun tunggal, bertangkai pendek, letak berhadapan bersilang, bentuk lanset, pangkal runcing, ujung meruncing, tepi rata, permukaan atas hijau tua, bagian bawah hijau muda, panjang 2 – 8 cm, lebar 1 – 3 cm. Perbungaan rasemosa yang bercabang membentuk malai, keluar dari. ujung batang atau ketiak daun. Bunga berbibir berbentuk tabung;kecil- kecil, warnanya putih bernoda ungu. Buah kapsul berbentuk jorong, panj ang sekitar 1,5 cm, lebar 0,5 cm, pangkal dan ujung tajam, bila masak akan pecah mernbujur menjadi 4 keping-Biji gepeng, kecil-kecil, warnanya cokelat muda. Perbanyakan dengan biji atau setek batang. II. Syarat Tumbuh a. Iklim · Ketinggian tempat : 1 m – 700 m di atas permukaan laut · Curah hujan tahunan : 2.000 mm – 3.000 mm/tahun · Bulan basah (di atas 100 mm/bulan): 5 bulan – 7 bulan · Bulan kering (di bawah 60 mm/bulan): 4 bulan – 7 bulan · Suhu udara : 250 C – 320 C · Kelembapan : sedang · Penyinaran : sedang b. Tanah · Tekstur : berpasir · Drainase : baik · Kedalaman air tanah : 200 cm – 300 cm dari permukaan tanah · Kedalaman perakaran : di atas 25 cm dari permukaan tanah · Kemasaman (pH) : 5,5 – 6,5 · Kesuburan : sedang – tinggi 2. Pedoman Bertanam a. Pegolahan Tanah · Buatkan lubang tanam berukuran 25 cm x 25 cm x 25 cm b. Persiapan bibit · Biji disemaikan dalam kantong plastik. c. Penanaman · Bibit ditanam pada lubang tanam yang telah disediakan dengan jarak tanam 1,5 m x 1,5 m

Nama Lokal :
Ki oray, ki peurat, takilo (Sunda). bidara, sadilata, sambilata,; takila (Jawa). pepaitan (Sumatra).; Chuan xin lian, yi jian xi, lan he lian (China), xuyen tam lien,; cong cong (Vietnam). kirata, mahatitka (India/Pakistan).; Creat, green chiretta, halviva, kariyat (Inggris).;

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Hepatitis, infeksi saluran empedu, disentri basiler, tifoid, diare, ; Influenza, radang amandel (tonsilitis), abses paru, malaria, ; Radang paru (pneumonia), radang saluran napas (bronkhitis),; Radang ginjal akut (pielonefritis), radang telinga tengah (OMA), ; Radang usus buntu, sakit gigi, demam, kencing nanah (gonore),; Kencing manis (diabetes melitus), TB paru, skrofuloderma,; Batuk rejan (pertusis), sesak napas (asma), leptospirosis,; Darah tinggi (hipertensi), kusta (morbus hansen=lepra),; Keracunan jamur, singkong, tempe bongkrek, makanan laut,; Kanker:penyakit trofoblas, kehamilan anggur (mola hidatidosa),; Trofoblas ganas (tumor trofoblas), tumor paru.;

BAGIAN YANG DIGUNAKAN :

Herba. Dipanen sewaktu tumbuhan ini mulai berbunga. Setelah dicuci, dipotong-potong seperlunya lalu dikeringkan.

INDIKASI :

Herba sambiloto ini berkhasiat untuk mengatasi:

– hepatitis, infeksi saluran empedu,

– disentri basiler, tifoid, diare, influenza, radang amandel (tonsilitis),

abses paru, radang paru (pneumonia), radang saluran napas

(bronkhitis), radang ginjal akut (pielonefritis akut), radang telinga

tengah (OMA), radang usus buntu, sakit gigi,

– demam, malaria,

– kencing nanah (gonore),

– kencing manis (DM),

– TB paru, skrofuloderma, batuk rej an (pertusis), sesak napas (asma),

– darah tinggi (hipertensi),

– kusta (morbus hansen = lepra),

– leptospirosis,

– keracunan jamur, singkong, tempe bongkrek, makanan laut,

– kanker: penyakit trofoblas seperti kehamilan anggur (mola hidatidosa)

dan penyakit trofoblas ganas (tumor trofoblas), serta tumor paru.

CARA PEMAKAIAN :

Herba kering sebanyak 10 – 20 g direbus atau herba kering digiling halus menjadi bubuk lalu diseduh, minum atau 3 – 4 kali sehari,  4 – 6 tablet. Untuk pengobatan kanker, digunakan cairan infus, injeksi, atau tablet. Untuk pemakaian luar, herba segar direbus lalu airnya digunakan untuk cuci atau digiling halus dan dibubuhkan ke tempat yang sakit, seperti digigit ular berbisa, gatal-gatal, atau bisul.

CONTOH PEMAKAIAN :

1. Tifoid

Daun sambiloto segar sebanyak 10 – 15 lembar direbus dengan 2

gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, tambahkan

madu secukupnya lalu diminum sekaligus. Lakukan 3 kali sehari.

2. Disentri basiler, diare, radang saluran napas, radang paru

Herba kering sebanyak 9 – 15 g direbus dengan 3 gelas air sampai

tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring. Air rebusannya diminum

sehari 2 kali, masing-masing 1/2 gelas.

3. Disentri

Herba krokot segar (Portulaca oleracea) sebanyak 500 g diuapkan

selama 3 – 4 menit, lalu ditumbuk dan diperas. Air perasan yang

terkumpul ditambahkan bubuk kering sambiloto sebanyak 10 g

sambil diaduk. Campuran tersebut lalu diminum, sehari 3 kali

masing-masing 1/3 bagian.

4. Influenza, sakit kepala, demam

Bubuk kering sambiloto sebanyak 1 g diseduh dengan cangkir air

panas. Setelah dingin diminum sekaligus, Lakukan 3 – 4 kali sehari.

5. Demam

Daun sambiloto segar sebanyak 1 genggam ditumbuk. Tambahkan

1/2 cangkir air bersih, saring lalu minum sekaligus. Daun segar yang

digiling halus juga bisa digunakan sebagai tapal badan yang panas.

6. TB paru

Daun sambiloto kering digiling menjadi bubuk. Tambahkan madu

secukupnya sambil diaduk rata lalu dibuat pil dengan diameter 0,5

cm. Pil ini Ialu diminum dengan air matang. Sehari 2 – 3 kali, setiap

kali minum 15 – 30 pil.

7. Batuk rejan (pertusis), darah tinggi

Daun sambiloto segar sebanyak 5 – 7 lembar diseduh dengan 1/2

cangkir air panas. Tambahkan madu secukupnya sambil diaduk.

Setelah dingin minum sekaligus. Lakukan sehari 3 kali.

8. Radang paru, radang mulut, tonsilitis

Bubuk kering herba sambiloto sebanyak 3 – 4,5 g diseduh dengan

air panas. Setelah dingin tambahkan madu secukupnya lalu diminum

sekaligus.

9. Faringitis

Herba sambiloto segar sebanyak 9 g dicuci lalu dibilas dengan air

matang. Bahan tersebut lalu dikunyah dan aimya ditelan.

10. Hidung berlendir (rinorea), infeksi telinga tengah (OMA), sakit gigi

Herba sambiloto segar sebanyak 9 – 15 g direbus dengan 3 gelas air

sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, lalu diminum 2 kali

sehari @ 1/2 gelas. Untuk OMA, herba segar dicuci lalu digiling

halus dan diperas. Airnya digunakan untuk tetes telinga.

11. Kencing manis

Daun sambiloto segar sebanyak 1/2 genggam dicuci lalu direbus

dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 2 1/4 gelas. Setelah dingin

disaring, lalu diminum sehabis makan, 3 kali sehari @ 3/4 gelas.

12. Kencing nanah

Sebanyak 3 tangkai sambilo

Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS : : Herba ini rasanya pahit, dingin, masuk meridian paru, lambung, usus besar dan usus kecil. KANDUNGAN KIMIA : Daun dan percabangannya mengandung laktone yang terdiri dari deoksiandrografolid, andrografolid (zat pahit), neoandrografolid, 14-deoksi-11-12-didehidroandrografolid, dan homoandrografolid. Juga terdapat flavonoid, alkane, keton, aldehid, mineral (kalium, kalsium, natrium), asam kersik, dan damar. Flavotioid diisolasi terbanyak dari akar, yaitu polimetoksiflavon, andrografin, pan.ikulin, mono-0- metilwithin, dan apigenin-7,4- dimetileter. Zat aktif andrografolid terbukti berkhasiat sebagai hepatoprotektbr (melindungi sel hati dari zat toksik). Efek Farmakologis dan Hasil Penelitian : 1. Herba ini berkhasiat bakteriostatik pada Staphylococcus aurcus, Pseudomonas aeruginosa, Proteus vulgaris, Shigella dysenteriae, dan Escherichia coli. 2. Herba ini sangat efektif untuk pengobatan infeksi. In vitro, air rebusannya merangsang daya fagositosis sel darah putih. 3. Andrografolid menurunkan demam yang ditimbulkan oleh pemberian vaksin yang menyebabkan panas pada kelinci. 4. Andrografolid dapat mengakhiri kehamilan dan menghambat pertumbuhan trofosit plasenta. 5. Dari segi farmakologi, sambiloto mempunyai efek muskarinik pada pembuluh darah, efek pada jantung iskeniik, efek pada respirasi sel, sifat kholeretik, antiinflamasi, dan antibakteri. 6. Komponen aktifnya seperti ncoandrografolid, andrografolid, deoksiandrografolid dan 14-deoksi-11, 12-didehidroandrografolid berkhasiat antiradang dan antipiretik. 7. Pemberian rebusan daun sambiloto 40% bly sebanyak 20 milkg bb dapat menurunkan kadar glukosa darah tikus putih (W. Sugiyarto, Fak. Farmasi UGM, 1978). 8. Infus daun sarnbiloto 5%, 10% dan 15%, semuanya dapat menurunkan suhu tubuh marmut yarrg dibuat demam (Hasir, jurusan Farmasi, FMIPA UNHAS, 1988). 9. Infus herba sambiloto mempunyai daya antijamur terhadap Microsporum canis, Trichophyton mentagrophytes, Trichophyton rubrum, Candida albicans, dan Epidermophyton floccosum (Jan Susilo*, Endang Hanani **, A. Soemiati** dan Lily Hamzah**, Bagian Parasitologi FK UI* dan Jurusan Farmasi FMIPAUI**, Warta Perhipba No.Flll, Jan-Maret 1995). 10. Fraksi etanol herba sambiloto mempunyai efek antihistaminergik. Peningkatan konsentrasi akan meningkatkan hambatan kontraksi ileum marmot terisolasi yang diinduksi dengan histamin dihidroksiklorida (Yufri Aidi, N.C. Sugiarso, Andreanus, AA.S., Anna Setiadi Ranti, Jurusan Farmasi FMIPA, ITB, Warta Tumbuhan Obat Indonesia vol. 3 No. 1, 1996).

Pos ini dipublikasikan di Herba Hepatitis dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Herbal Hepatitis

  1. gendisbanyumas berkata:

    Kunjungan siang, kunjungan balik ke minuman herbal berkhasiat gujahe.gujahe-kbm

  2. Abdul Rafi Rafi berkata:

    maaf gimana saya bisa mendapat herba hepatitis

  3. Abdul Rafi Rafi berkata:

    maaf gimana saya bisa mendapatkan herba hepatitis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s