Tanda – Tanda / Gejala Diabetes (Penyakit Kencing Manis)

diabetes mellitus

Tubuh mempunyai mekanisme yang sangat bagus untuk memberitahukan kita bila terjadi suatu kelainan. Sangatlah penting untuk mengetahui gejala diabetes melitus tipe 2 secara dini sebab semakin dini pengobatan dilakukan maka akan semakin bagus hasilnya dan semakin kecil kemungkinan terjadinya komplikasi. Berikut adalah beberapa tanda – tanda / gejala diabetes – kencing manis yang patut kita waspadai.

  • Kelelahan yang luar biasa
    Pasien akan merasakan tubuhnya lemas walaupun tidak melakukan aktifitas yang tidak terlalu berat. Jadi, bila anda selalu merasa lelah dan mengantuk meskipun sebelumnya anda tidak begadang, ada baiknya anda segera menemui dokter.
  • Penurunan berat badan secara drastis.
    Jika anda memakan makanan yang berlebihan maka tubuh anda akan semakin gemuk. Kelebihan lemak dalam tubuh akan menyebabkan resistensi tubuh terhadap insulin meningkat. Pada orang yang telah menderita diabetes, walaupun ia makan makanan secara berlebihan tubuhnya tidak menjadi gemuk dan malah mengurus hal ini disebabkan karena otot tidak mendapatkan cukup energi untuk tumbuh.
  • Gangguan penglihatan.
    Kadar gula yang tinggi dalam darah akan menarik cairan dalam sel keluar, hal ini akan menyebabkan sel menjadi keriput. Keadaan ini juga terjadi pada lensa mata, sehingga lensa menjadi rusak dan penderita akan mengalami gangguan penglihatan. Gangguan penglihatan ini akan membaik bila diabetes melitus berhasil ditangani dengan baik. Bila tidak tertangani, gangguan penglihatan ini akan dapat memburuk dan menyebabkan kebutaan.
  • Sering terinfeksi dan bila luka sulit sekali sembuh.
    Keadaan ini bisa terjadi karena kuman tumbuh subur akibat dari tingginya kadar gula dalam darah. Selain itu, jamur juga sangat menikmati tumbuh pada darah yang tinggi kadar glukosanya.

Demikianlah beberapa gejala utama yang anda perhatikan pada penyakit diabetes – kencing manis. Tanda – tanda lain yang dapat diamati antara lain:

  • Sering kencing. Biasanya sering terbangun malam hari untuk kencing.
  • Gatal – gatal berlebihan. Biasanya gatal ini terjadi pada sekita alat kelamin.
  • Mudah lapar dan haus diluar kebiasaan
  • Sering kesemutan baik pada kaki atau bagian lain
  • Nafsu sex menurun (ya iyalah …)
  • Mudah mengantuk. Ini pada dasarnya adalah bagian dari kelelahan yang luar biasa.
  • Untuk ibu yang sedang mengandung dapat diindikasikan dengan berat badan bayinya yang lebih dari 4 kg.

Jika anda memiliki keturunan diabetes dan anda menunjukkan gejala – gejala diatas walaupun ringan. Segera ambil tindakan dengan banyak melakukan exercise dan mengkonsumsi obatan alternatif herbal yang tidak memiliki efek samping. Untuk latihan yang dapat dilakukan dan obat alternatif yang dapat dikonsumsi dapat dilihat disini.

Ungkap Gejala Diabetes dengan Pemeriksaan Retina

Tim peneliti University of Michigan mengembangkan sebuah alat baru untuk mendeteksi pengelihatan yang mampu mendeteksi stres metabolik dan kerusakan jaringan yang terjadi sebelum gejala pertama penyakit terlihat.

Alat ini lebih menguntungkan dibandingkan dengan tes glukosa darah untuk mendeteksi Diabetes. Selain itu alat ini hanya memerlukan waktu sekitar 5 menit untuk memeriksa kedua mata.

Stres metabolik dapat dideteksi dengan mengukur intensitas fluoresensi seluler jaringan retina. Para peneliti mengatakan bahwa kadar FA (flavoprotein autofluorescence) yang tinggi dapat menjadi indikator yang dipercaya untuk penyakit mata.

Dalam suatu penelitian, kadar FA pada 21 subjek yang menderita Diabetes diukur dan dibandingkan dengan kelompok kontrol yang sehat dibandingkan dengan usia sebanding. Aktivitas FA tersebut lebih tinggi pada kelompok orang dengan penyakit Diabetes dibandingkan dengan kelompok orang yang sehat. Hasil ini tidak dipengaruhi oleh berat dan lama penyakit, namun meningkat pada kelmpok orang yang menderita Diabetes dengan kelompok usia 30 hingga 39 tahun, 40 hingga 49 tahun, dan 50 hinga 59 tahun.

Beberapa subjek dalam penelitian ini menderita retinopati diabetika, yang menyebabkan kerusakan pembuluh darah di mata.

Hiperglikemia diketahui menginduksi kematian sel pada jaringan diabetik, sebelum gejalanya dapat dideteksi secara klinik, dan setelah timbulnya penyakit.

Peningkatan FA merupakan indikator paling awal dari kematian sel dan permulaan rusaknya jaringan. FA bertindak sebagai petanda jika metabolisme mulai terganggu. Kita dapat memanfaatkannya untuk mendeteksi dan memonitor penyakit.

Namun kenaikan FA tidak berarti seseorang tersebut menderita Diabetes. Tetapi karena prevalensi penyakit Diabetes yang cukup tinggi dalam populasi maka individu dengan kadar FA yang tinggi harus segera menjalani tes glukosa darah. Jika tes glukosa darah negatif maka perlu dicari suatu penyebab lain dari disfungsi jaringan okuler tersebut.

Para peneliti mengatakan bahwa alat ini memiliki potensi yang begitu besar untuk scrining dan tata laksana Diabetes. Banyak sekali kerusakan yang terjadi sebelum penyakit ini berhasil dideteksi oleh dokter. Karenanya diagnosis dini memungkinkan kita mengurangi kerusakan organ dan mencegah berbagai komplikasi penyakit Diabetes ini.

Sumber: Archieve of Ophatalmology 2008; 126: 934 – 938, disadur dari MU

Gejala

Tiga serangkai yang klasik tentang gejala kencing manis adalah polyuria ( urination yang sering), polydipsia ( dahaga ditingkatkan dan masukan cairan sebagai akibat yang ditingkatkan) dan polyphagia ( selera yang ditingkatkan). Gejala ini boleh kembang;kan sungguh puasa diset dicetak 1, terutama sekali di anak-anak ( bulan atau minggu) tetapi mungkin sulit dipisahkan atau dengan sepenuhnya absen & & mdash; seperti halnya mengembang;kan jauh lebih pelan-pelan & mdash; diset dicetak 2. Diset dicetak 1 [di/ke] sana boleh juga jadilah kerugian berat/beban ( di samping normal atau yang ditingkatkan makan) dan kelelahan yang tidak dapat diperkecil lagi. Gejala ini boleh juga menjelma diset dicetak 2 kencing manis di pasien kencing manis siapa adalah dengan kurang baik dikendalikan. Gejala awalnya berhubungan dengan efek langsung dari kadar gula darah yang tinggi. Jika kadar gula darah sampai diatas 160-180 mg/dL, maka glukosa akan sampai ke air kemih. Jika kadarnya lebih tinggi lagi, ginjal akan membuang air tambahan untuk mengencerkan sejumlah besar glukosa yang hilang. Karena ginjal menghasilkan air kemih dalam jumlah yang berlebihan, maka penderita sering berkemih dalam jumlah yang banyak (poliuri).

Akibat poliuri maka penderita merasakan haus yang berlebihan sehingga banyak minum (polidipsi).

Sejumlah besar kalori hilang ke dalam air kemih, penderita mengalami penurunan berat badan. Untuk mengkompensasikan hal ini penderita seringkali merasakan lapar yang luar biasa sehingga banyak makan (polifagi).

Gejala lainnya adalah pandangan kabur, pusing, mual dan berkurangnya ketahanan selama melakukan olah raga. Penderita diabetes yang kurang terkontrol lebih peka terhadap infeksi.

Karena kekurangan insulin yang berat, maka sebelum menjalani pengobatan penderita diabetes tipe I hampir selalu mengalami penurunan berat badan. Sebagian besar penderita diabetes tipe II tidak mengalami penurunan berat badan.

Pada penderita diabetes tipe I, gejalanya timbul secara tiba-tiba dan bisa berkembang dengan cepat ke dalam suatu keadaan yang disebut dengan ketoasidosis diabetikum. Kadar gula di dalam darah adalah tinggi tetapi karena sebagian besar sel tidak dapat menggunakan gula tanpa insulin, maka sel-sel ini mengambil energi dari sumber yang lain. Sel lemak dipecah dan menghasilkan keton, yang merupakan senyawa kimia beracun yang bisa menyebabkan darah menjadi asam (ketoasidosis). Gejala awal dari ketoasidosis diabetikum adalah rasa haus dan berkemih yang berlebihan, mual, muntah, lelah dan nyeri perut (terutama pada anak-anak). Pernafasan menjadi dalam dan cepat karena tubuh berusaha untuk memperbaiki keasaman darah. Bau nafas penderita tercium seperti bau aseton. Tanpa pengobatan, ketoasidosis diabetikum bisa berkembang menjadi koma, kadang dalam waktu hanya beberapa jam.

Bahkan setelah mulai menjalani terapi insulin, penderita diabetes tipe I bisa mengalami ketoasidosis jika mereka melewatkan satu kali penyuntikan insulin atau mengalami stres akibat infeksi, kecelakann atau penyakit yang serius.

Penderita diabetes tipe II bisa tidak menunjukkan gejala-gejala semala beberapa tahun. Jika kekurangan insulin semakin parah, maka timbullah gejala yang berupa sering berkemih dan sering merasa haus. Jarang terjadi ketoasidosis. Jika kadar gula darah sangat tinggi (sampai lebih dari 1.000 mg/dL, biasanya terjadi akibat stres-misalnya infeksi atau obat-obatan), maka penderita akan mengalami dehidrasi berat, yang bisa menyebabkan kebingungan mental, pusing, kejang dan suatu keadaan yang disebut koma hiperglikemik-hiperosmolar non-ketotik.

Gejala awalnya berhubungan dengan efek langsung dari kadar gula darah yang tinggi. Jika kadar gula darah sampai diatas 160-180 mg/dL, maka glukosa akan sampai ke air kemih. Jika kadarnya lebih tinggi lagi, ginjal akan membuang air tambahan untuk mengencerkan sejumlah besar glukosa yang hilang. Karena ginjal menghasilkan air kemih dalam jumlah yang berlebihan, maka penderita sering berkemih dalam jumlah yang banyak (poliuri).

Akibat poliuri maka penderita merasakan haus yang berlebihan sehingga banyak minum (polidipsi).

Sejumlah besar kalori hilang ke dalam air kemih, penderita mengalami penurunan berat badan. Untuk mengkompensasikan hal ini penderita seringkali merasakan lapar yang luar biasa sehingga banyak makan (polifagi).

Gejala lainnya adalah pandangan kabur, pusing, mual dan berkurangnya ketahanan selama melakukan olah raga. Penderita diabetes yang kurang terkontrol lebih peka terhadap infeksi.

Karena kekurangan insulin yang berat, maka sebelum menjalani pengobatan penderita diabetes tipe I hampir selalu mengalami penurunan berat badan. Sebagian besar penderita diabetes tipe II tidak mengalami penurunan berat badan.

Pada penderita diabetes tipe I, gejalanya timbul secara tiba-tiba dan bisa berkembang dengan cepat ke dalam suatu keadaan yang disebut dengan ketoasidosis diabetikum. Kadar gula di dalam darah adalah tinggi tetapi karena sebagian besar sel tidak dapat menggunakan gula tanpa insulin, maka sel-sel ini mengambil energi dari sumber yang lain. Sel lemak dipecah dan menghasilkan keton, yang merupakan senyawa kimia beracun yang bisa menyebabkan darah menjadi asam (ketoasidosis). Gejala awal dari ketoasidosis diabetikum adalah rasa haus dan berkemih yang berlebihan, mual, muntah, lelah dan nyeri perut (terutama pada anak-anak). Pernafasan menjadi dalam dan cepat karena tubuh berusaha untuk memperbaiki keasaman darah. Bau nafas penderita tercium seperti bau aseton. Tanpa pengobatan, ketoasidosis diabetikum bisa berkembang menjadi koma, kadang dalam waktu hanya beberapa jam.

Bahkan setelah mulai menjalani terapi insulin, penderita diabetes tipe I bisa mengalami ketoasidosis jika mereka melewatkan satu kali penyuntikan insulin atau mengalami stres akibat infeksi, kecelakann atau penyakit yang serius.

Penderita diabetes tipe II bisa tidak menunjukkan gejala-gejala semala beberapa tahun. Jika kekurangan insulin semakin parah, maka timbullah gejala yang berupa sering berkemih dan sering merasa haus. Jarang terjadi ketoasidosis. Jika kadar gula darah sangat tinggi (sampai lebih dari 1.000 mg/dL, biasanya terjadi akibat stres-misalnya infeksi atau obat-obatan), maka penderita akan mengalami dehidrasi berat, yang bisa menyebabkan kebingungan mental, pusing, kejang dan suatu keadaan yang disebut koma hiperglikemik-hiperosmolar non-ketotik.

Diabetes dan puasa

Pasien yang cukup terkendali dengan pengaturan makan saja tidak mengalami kesulitan kalau berpuasa. Pasien yang cukup terkendali dengan obat dosis tunggal juga tidak mengalami kesulitan untuk berpuasa. Obat diberikan pada saat berbuka puasa. Untuk yang terkendali dengan obat hipoglikemik oral (OHO) dosis tinggi, obat diberikan dengan dosis sebelum berbuka lebih besar daripada dosis sahur. Untuk yang memakai insulin, dipakai insulin jangka menengah yang diberikan saat berbuka saja. Sedangkan pasien yang harus menggunakan insulin (DMTI) dosis multipel, dianjurkan untuk tidak berpuasa dalam bulan Ramadhan[/justify].[3]

Obat Herbal Untuk Mengobati Diabetes Mellitus Kronis

obat herbal diabetes kronis

herbal diabetes kronis

Testimoni Obat Herbal

diabetes mellitus

Testimoni Obat Herbal

Sumber : Wikipedia

Komentar ditutup.